Tahun 2007 segera berakhir. Sederet peristiwa dan bencana menjadi catatan kelabu dalam perjalanan Kota Padang selama tahun 2007. Mulai dari bencana abrasi pantai, gempa, gelombang pasang, ancaman isu gempa dan tsunami, hingga banjir di penghujung akhir tahun. Hal tersebut tidak bisa dielakkan, pasalnya kondisi alam dan letak Kota Padang, termasuk daerah rawan bencana.
Catatan Padang Ekspres, membuka lembaran tahun 2007, abrasi pantai menghantam 14 rumah sepanjang pantai Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah. Dua rumah warga RT 01 dan 02 RW 10 hanyut dan 12 rumah yang dihuni sekitar 36 KK mengalami rusak berat disapu ombak raksasa, Senin (1/1), sekitar pukul 15.00 WIB. Sedikitnya 42 rumah warga di kawasan tersebut juga terancam diterjang ombak.
Wali Kota Padang Fauzi Bahar dihadapan Wakil Presiden RI H M Jusuf Kalla ketika meninjau kawasan abrasi pantai, Jumat (19/10), memaparkan, dalam rentang beberapa tahun terakhir ini, abrasi terus mengancam perumahan warga disepanjang bibir pantai ini. Sebanyak 498 rumah mengalami rusak berat (RB), 797 unit rusak sedang (RS) dan 1178 unit rusak ringan (RR), dengan total kerugian mencapai Rp278 miliar.
Banjir
Musibah banjir melanda Kota Padang, melanda Kecamatan Kototangah yang memang dikenal sebagai langganan banjir, Kamis (4/1). Kawasan yang tergenang sebanyak 482 KK terdiri Komplek Perumahan Pratama III (102 KK), Pondok Citra (186 KK), Lubuk Gading (96 KK) dan Sopo Inanta (98 KK) yang disebabkan Batang Kandis Lubuk Buaya meluap.
Banjir kembali melanda kawasan Kecamatan Kototangah dan Padang Selatan, yaitu Lubuk Buaya, Kampung Jambak, Tunggul Hitam, Seberang Palinggam dan Mata Air, Senin (23/1) hingga (24/1). Kawasan itu tergenang banjir setinggi 1 hingga 1,5 meter.
Sebagai upaya warga dievakuasi dan memperoleh bantuan berupa nasi bungkus dari Pemko dan bantuan donatur.
Akibat hujan mengguyur lebat, jalan yang menghubungkan Koto Kaciak dengan objek wisata Aia Manih, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan terjadi terban jalan sekitar 100 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter. Akibat hal tersebut, akses ke Bukik Aia Manih yang dihuni penduduk sekitar 1600 jiwa itu terputus, Selasa (23/1) pagi. Namun, jalan itu telah bisa dilewati kembali, karena sejak pagi aparat bekerjasama masyarakat dan dibantu alat berat sudah turun ke lokasi untuk memperbaiki jalan itu.
Menjelang akhir tahun, Kota Padang kembali dilanda banjir yang makin gawat.
Kawasan yang terparah terjadi di Koto Tangah dan Nanggalo, sehingga ribuan warga yang berada di kawasan tersebut dievakuasikan. Banjir juga menerjang kawasan Pasie Jambak dan Bungus Teluk Kabung dan membuat 15 KK terisolir akibat hanyutnya jembatan Pasa Laban Kecamatan Bungus.
Akibat banjir tersebut, data dari Satlak PB Kota Padang yang masuk ke Satkorlak PB Sumbar, mencatat kerugian fisik sementara yang diderita Kota Padang akibat banjir bandang, sebesar Rp23,9 M. Kerusakan infrastruktur banyak terdapat pada cekdam, bendungan, saluran irigasi, jembatan, perumahan warga dan areal pertanian (18 Ha).
Infrastruktur yang rusak tersebut, diantaranya Cekdam Gunung Nago, Irigasi Gunung Nago, Irigasi Koto Tuo, jembatan gantung Sei Sapih Kuranji serta tebing sungai Kuranji dan Belimbing. Sementara untuk bangunan rumah yang terendam banjir di Kota Padang, sebanyak 5.500 unit, termasuk 52 unit rumah terancam roboh. Di samping itu, menelan korban jiwa sebanyak satu orang tewas, warga Parakburuak Kecamatan Kototangah, Basrial (45).
Gempa
Belum habis penanganan abrasi dan banjir, warga Kota Padang kembali dipanikkan dengan guncangan gempa 6 Maret dan 12-13 September 2007. Gempa pertama terjadi pada 6 Maret berkekuatan 6,3 SR berpusat di 11 kilometer Barat Daya Kota Batusangkar. Suasana panik dan mencekam, begitu guncangan hebat ini dirasakan menggetarkan tanah yang dipijak. Warga kota langsung panik dan berlarian ke sana kemarin.
Ribuan kendaraan langsung memenuhi ruas jalan yang memicu kemacetan di sejumlah lokasi. Mereka ingin menyelamatkan diri dari kemungkinan terjadinya tsunami. Sebagian lagi tetap bertahan di rumah, rumah sakit, gedung perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik lainnya sembari menunggu informasi dan kemungkinan gempa susulan. Berdasarkan data Posko Penanggulangan Bencana Sumbar, tercatat satu orang korban di Kota Padang.
Menjelang dan saat umat muslim melaksanakan ibadah puasa, kembali warga Kota Padang dipanikkan dengan guncangan gempa 12-13 September. Gempa 12 September berkekuatan 7,9 Scala Richter (SR) terjadi pukul 18.10 WIB dengan pusat gempa 159 kilometer arah Barat Daya Bengkulu, dan gempa 13 September 7,7 SR berpusat di Sungai Penuh Jambi.
Akibat gempa tersebut, berdasarkan data Posko Penanggulangan Bencana Sumbar, terdata korban tewas satu orang, Presiden Direktur PT Suka Fajar Ltd Moyardi Kasim, dan 3.314 bangunan rumah rusak berat. Diperkirakan Kota Padang mengalami kerugian sekitar Rp186,1 miliar.
Gelombang Pasang
Kamis (10/5), sekitar pukul 03.59 WIB, gelombang pasang setinggi 2,2 meter menghantam Kota Padang. Tercatat empat kecamatan menjadi korban bencana gelombang yang disebabkan gaya tarik bulan ini, yaitu Kecamatan Koto Tangah, Padang Barat, Padang Selatan dan Bungus Telukkabung.
Akibatnya, rumah-rumah rusak, dan perahu nelayan yang ditambatkan di bibir pantai hancur. Gelombang bukan saja merendam perumahan warga. Tetapi juga membawa berton-ton pasir laut dan menghempaskannya ke jalanan. Rumah, jalan-jalan di bibir pantai dipenuhi pasir berwarna hitam.
Jumat (18/5), sekitar pukul 04.30 WIB, kembali gelombang pasang ini menghantam Pantai Padang, terutama daerah bagian Pantai Padang, Purus, Parupuk Tabing dan Pasia Nan Tigo Koto Tangah. Gelombang pasang ini hempasan ombak terus menguat dan mulai menghancurkan dinding pembatas dan batu krib pantai.
Tidak satupun kehidupan perekonomian terlihat di pantai yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan. Warung-warung non permanen di pinggir pantai roboh. Sementara, gedung-gedung permanen dari beton dan berada di pinggir bantai, terlihat tertimbun pasir hingga mencapai ketinggian 50 cm. Seperti di sepanjang Parupuk Tabing hingga ke Pasia Nantigo (Pasia Kandang, Pasia Jambak dan Pasia Sabalah)
“Tapi, awak dak manyangko gelombang pasang ka sampai ka dalam rumah. Kini, kabaa juo lai rumahko dak mungkin lai ditingggakan. Yo tapasolah pindah ka tampek urang lain samantaro,” tandas Wat (36), warga RT 04 RW 17 Pasia Muaro Panjalinan.
Isu Gempa dan Tsunami
Usai dihadapkan bencana itu, warga Padang juga sempat disibukkan dengan isu tidak bertanggung jawab dari warga Brazil, Jucelino Nobrega da Luz, beberapa waktu lalu, yang mengatakan akan terjadi gempa bumi berpotensi tsunami hebat di Bengkulu dan Sumbar, 23 Desember 2007. Ribuan warga Padang mengungsi ke lokasi yang aman dan tinggi. Akibatnya, perekonomian kota lumpuh dan sepi aktivitas warga.
Pantauan Padang Ekspres, sejumlah titik kepadatan lalu lintas di Kota Padang tampak sepi kendaraan. Tak hanya itu, di Pasar Raya Padang, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol serta objek wisata Pantai Padang tak terlalu banyak pengunjung. Kawasan Pondok dan Pantai Padang yang biasanya ramai dikunjungi masyarakat pada malam Minggu, juga tampak langang. Namun sebaliknya, Jalan Padang-Bukitinggi tampak padat kendaraan hingga terjadi kemacetan.
Biasanya di RTH pada hari libur banyak orangtua yang membawa anak-anak mereka untuk sekadar refreshing. Begitu juga penjaja makanan yang ramai di RTH tersebut juga tidak terlalu banyak. Sedangkan di Pasar Raya Padang, Pedagang Kaki Lima (PKL) banyak yang menutup lapak mereka.
Rentetan bencana 2007 itu, di tahun 2008 warga Padang mesti waspada. Banjir, abrasi, gempa dan bencana lainnya terus mengintai. (*)